young boy reciting quran like qari abdul basit-mashallah

Surah Rahman - Beautiful and Heart trembling Quran recitation by Syed Sadaqat Ali

yatauhid.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2009

Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di bidang ilmu Pengetahuan

Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di
Bidang Ilmu Pengetahuan
Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu
pengetahuan. Dalam Islam, menuntut ilmu itu hukumnya wajib.
Artinya jika kita tidak mengerjakan kita berdosa:
”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim lelaki dan
Muslim perempuan” [HR Ibnu Majah]
a. Allah Meninggikan Derajad orang yang Berilmu
Bahkan Allah sendiri lewat Al Qur’an meninggikan orang-orang
yang berilmu dibanding orang-orang awam beberapa derajad.
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)
Pada surat Ali ‘Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan
dirinya, lalu dengan malaikatnya, dan kemudian dengan orangorang
yang berilmu. Jelas kalau Allah menghargai orang-orang
yang berilmu.
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan
melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat
dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang
demikian itu)” (Ali Imran:18)

Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di Bidang Ilmu Pengetahuan 25
Nabi Muhammad SAW juga sangat menghargai orang yang
berilmu. “Ulama adalah pewaris para Nabi” Begitu
sabdanya seperti yang dimuat di HR Abu Dawud.
Bahkan Nabi tidak tanggung-tanggung lebih menghargai
seorang ’alim (berilmu) daripada satu kabilah.
“Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan
daripada matinya seorang ‘alim.” (HR Thabrani)
Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli
ibadah yang sewaktu-waktu bisa tersesat karena
kurangnya ilmu.
“Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah
seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah
dari sahabatku.” (HR At Tirmidzi).
b. Hanya Orang Berilmu yang Memahami Kebenaran
Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa
memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia.
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk
manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang
yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43)
Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa
mendapat petunjuk Al Qur’an.


“Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di
dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al Ankabut:49)
Nabi Muhammad mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu.
“Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitu
sabdanya. “Tuntutlah ilmu dari sejak lahir hingga sampai ke
liang lahat.”
Jelas Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan
seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. Karena itu
pendapat mayoritas ummat Islam (terutama di pedesaan) yang
menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggitinggi,
soalnya nanti tinggalnya juga di dapur jelas
bertentangan dengan ajaran Islam.
Selain itu Nabi juga menyuruh agar ummat Islam menuntut ilmu
berkelanjutan hingga ajalnya. Karena itu seorang muslim
haruslah berusaha belajar setinggi-tingginya. Jangan sampai
kalah dengan orang kafir. Ummat Islam jangan cuma
mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi berusahalah
hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor jika mampu. Jika ada
yang tak mampu secara finansial, adalah kewajiban kita yang
berkecukupan untuk membantunya jika dia ternyata adalah
orang yang berbakat.
Sekarang ini, tingkat pengetahuan ummat Islam malah kalah
dibandingkan dengan orang-orang kafir. Ternyata justru orangorang
kafir itulah yang mengamalkan ajaran Islam seperti
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di Bidang Ilmu Pengetahuan 27
kewajiban menuntut Ilmu setinggi-tingginya. Jarang kita
menemukan ilmuwan di antara ummat Islam. Sebaliknya,
tingkat buta huruf sangat tinggi di negara-negara Islam.
Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam
bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat Islam
sendiri yang tidak mengamalkan perintah agamanya. Ayat
pertama dalam Islam adalah “Iqra!” Bacalah! Di situ Allah
memperintahkan ummat Islam untuk membaca, tapi ternyata
tingkat buta huruf justru paling tinggi di negara-negara Islam.
Ini karena kita tidak konsekwen dengan ajaran Islam.
c. Mengajarkan Ilmu yang Bermanfaat Tak Pernah Putus
Pahalanya
Nabi juga mengatakan, bahwa mengajarkan ilmu yang
bermanfaat akan mendapat pahala dari Allah SWT, dan
pahalanya berlangsung terus-menerus selama masyarakat
menerima manfaat dari ilmunya..
“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya
kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat….”(HR Muslim)
d. Kejayaan Islam dalam Ilmu Pengetahuan
Pada awal masa Islam, ummat Islam melaksanakan ajaran tsb
dengan sungguh-sungguh. Mereka giat menuntut ilmu. Haditshadits
seperti “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya
untuk mencari pengetahuan, ia berada di jalan Allah”, “Tinta


seorang ulama adalah lebih suci daripada darah seorang
syahid (martir)”, memberikan motivasi yang kuat untuk belajar.
Ummat Islam belajar dari orang Cina teknik membuat kertas.
Pabrik kertas pertama didirikan di Baghdad tahun 800, dan
perpustakaan pun tumbu dengan subur di seluruh negeri Arab
(baca: Islam) yang dulu dikenal sebagai bangsa nomad yang
buta huruf dan cuma bisa mengangon kambing.
Direktur observatorium Maragha, Nasiruddin At Tousi memiliki
kumpulan buku sejumlah 400.000 buah. Di Kordoba (Spanyol)
pada abad 10, Khalifah Al Hakim memiliki suatu perpustakaan
yang berisi 400.000 buku, sedangkan 4 abad sesudahnya raja
Perancis Charles yang bijaksana (artinya: pandai) hanya
memiliki koleksi 900 buku. Bahkan Khalifah Al Aziz di Mesir
memiliki perpustakaan dengan 1.600.000 buku, di antaranya
16.000 buah tentang matematika dan 18.000 tentang filsafat.
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di Bidang Ilmu Pengetahuan 29
Pada masa awal Islam dibangun badan-badan pendidikan dan
penelitian yang terpadu. Observatorium pertama didirikan di
Damaskus pada tahun 707 oleh Khalifah Amawi Abdul Malik.
Universitas Eropa 2 atau 3 abad kemudian seperti Universitas
Paris dan Univesitas Oxford semuanya didirikan menurut
model Islam.
Para ilmuwan Islam seperti Al Khawarizmi memperkenalkan
“Angka Arab” (Arabic Numeral) untuk menggantikan sistem
bilangan Romawi yang kaku. Bayangkan bagaimana ilmu
Matematika atau Akunting bisa berkembang tanpa adanya
sistem “Angka Arab” yang diperkenalkan oleh ummat Islam ke
Eropa. Kita mungkin bisa menuliskan angka 3 dengan mudah
memakai angka Romawi, yaitu “III,” tapi coba tulis angka
879.094.234.453.340 ke dalam angka Romawi. Bingungkan?
Itulah sumbangan Islam pada dunia.
Selain itu berkat Islam pulalah maka para ilmuwan sekarang
bisa menemukan komputer yang menggunakan binary digit (0
dan 1) sebagai basis perhitungannya, kalau dengan angka
Romawi (yang tak mengenal angka 0), tak mungkin hal itu bisa
terjadi.
Selain itu Al Khawarizmi juga memperkenalkan ilmu Algorithm
(yang diambil dari namanya) dan juga Aljabar (Algebra).
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Keutamaan Ilmu dan Kejayaan Islam di Bidang Ilmu Pengetahuan 30
Omar Khayam menciptakan teori tentang angka2 “irrational”
serta menulis suatu buku sistematik tentang Mu’adalah
(equation).
Di dalam ilmu Astronomi ummat Islam juga maju. Al Batani
menghitung enklinasi ekleptik: 23.35 derajad (pengukuran
sekarang 23,27 derajad).
Dunia juga mengenal Ibnu Sina (Avicenna) yang karyanya Al
Qanun fit Thibbi diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerard de
Cremone (meninggal tahun 1187), yang sampai zaman
Renaissance tetap jadi textbook di fakultas kedokteran Eropa.
Ar Razi (Razes) adalah seorang jenius multidisiplin. Dia bukan
hanya dokter, tapi juga ahli fisika, filosof, ahli theologi, dan ahli
syair. Eropa juga mengenal Ibnu Rusyid (Averroes) yang ahli
dalam filsafat.
Ilmuwan Islam juga mengutamakan percobaan/eksperimen
ketimbang Filsuf Yunani yang mengandalkan rasio. Ilmuwan
Islam menemukan metode Ilmiah (Scientific Method) dengan
pengamatan yang teliti, percobaan yang terkontrol, dan
pencatatan-pencatatan yang hati-hati.
Sebagai contoh Ibnu Al Haytham (Alhacen) dalam ”Book of
Optics” (1021) dengan berbagai observasi empiris dan
percobaan telah memperkenalkan Metode Ilmiah Modern.
Rosanna Gorini menulis:


”Menurut mayoritas sejarawan, Alhaytham adalah pionir
Metode Ilmiah Modern. Dengan bukunya dia merubah arti
istilah Optik dan membuat berbagai percobaan sebagai bukti
standar di bidangnya. Penyelidikannya bukan hanya
berdasarkan teori, tapi bukti percobaan. Dan percobaannya
sangat sistematis dan dapat diulang.” (Wikipedia)
Dan masih banyak lagi kemajuan yang dicapai oleh ummat
Islam di bidang ilmu pengetahuan. Ketika terjadi perang salib
antara raja Richard the Lion Heart dan Sultan Shalahuddin,
boleh dikata itu adalah pertempuran antara bangsa barbar
dengan bangsa beradab. Raja Richard yang terkenal itu
ternyata seorang buta huruf, (kalau rajanya buta huruf,
bagaimana rakyat Eropa ketika itu?) sedangkan Sultan Saladin
bukan saja seorang yang literate (bisa membaca), tapi juga
seorang ahli di bidang kedokteran. Ketika raja Richard sakit
parah dan tak seorangpun dokter ahli Eropa yang mampu
mengobatinya, Sultan Shalahuddin mempertaruhkan nyawanya
dan menyelinap di antara pasukan raja Richard dan
mengobatinya. Itulah bangsa Islam ketika itu, bukan saja pintar,
tapi juga welas asih. Jika kita menonton film “Robin Hood the
Prince of Thieves” yang dibintangi Kevin Kostner, tentu kita
maklum bagaimana Robin Hood terkejut dengan kecanggihan
teknologi bangsa Moor (Islam) seperti teropong.
e. Mari Menuntut Ilmu yang Bermanfaat!

Tapi itu sekarang tinggal sejarah. Ummat Islam sekarang tidak
lagi menghargai ilmu pengetahuan tak heran jika mereka jadi
bangsa yang terbelakang. Hanya dengan menghidupkan ajaran
Islam-lah kita bisa maju lagi.
Ummat Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut Imam
Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu
‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah
(paling tidak ada segolongan ummat Islam yang
mempelajarinya).
Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal
seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap
muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara
shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Jadi ilmu agama yang
pokok agar setiap muslim bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan
menghayati 6 rukun Iman serta mengetahui kewajiban dan
larangan Allah harus dipelajari oleh setiap muslim. Untuk apa
kita jadi ahli komputer, kalau kita akhirnya masuk neraka
karena tidak pernah mengetahui cara shalat?
Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam
seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia,
ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank
dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan
diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada
segolongan muslim yang menguasainya.


Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Islam dan bisa
menegakkan kalimah Allah.
Referensi:
1. Ihya ‘Ulumuddiin karangan Imam Al Ghazali
2. Janji-janji Islam karangan Roger Garaudy
3. Wikipedia

" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Menuntut Ilmu itu Wajib

Menuntut Ilmu itu Wajib
”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim lelaki dan
Muslim perempuan” [HR Ibnu Majah]
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu,
Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
[Bukhari-Muslim]
Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim. Artinya jika kita
menuntut ilmu kita mendapat pahala. Sebaliknya jika tidak, kita
berdosa.
Tanpa ilmu semua amal kebaikan yang kita lakukan akan
ditolak (HR Muslim). Kenapa? Karena bisa jadi amal kita itu
justru keliru dan malah merugikan orang. Sebagai contoh, jika
ada orang yang membangun jembatan yang sangat besar
melintas sungai, jika tanpa ilmu jembatan tersebut bisa runtuh
dan menewaskan orang yang melewatinya. Begitu pula jika kita
shalat tanpa ilmu, maka shalat kita bisa keliru. Mungkin ada
rukun yang keliru atau malah tidak dikerjakan sama sekali.
a. Larangan Taqlid atau Membebek tanpa Ilmu
Dalam Islam kita dilarang membebek/taqlid meski kita
mengikuti ulama:
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Menuntut Ilmu itu Wajib 17
”Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya...” [Al Israa’:36]
Kenapa? Itu sudah dijelaskan ayat di atas. Apalagi ulama juga
banyak yang berbeda pendapat. Bahkan Imam Al Ghazali
mengatakan ada 2 ulama yaitu ulama akhirat (yang benar) dan
ulama su’ (jahat) yang justru menyesatkan manusia.
Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
Sesatnya ummat Yahudi dan Nasrani karena mereka taqlid
kepada ulama mereka sehingga ketika para ulama mereka
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram,
mereka pun mengikutinya:
”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah...[At Taubah:31]
”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian
besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib
Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan
batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan
Allah...” [At Taubah:34]
Tentu anda bertanya, ”Saya kan masih awam. Kalau saya tidak
mengikuti ulama bagaimana?” Belajar pada ulama yang lurus
itu wajib. Tapi anda harus dapat dalil Al Qur’an dan Hadits dari
guru anda. Bukan sekedar ucapan guru anda belaka. Sebab
sumber pedoman dalam Islam hanya Al Qur’an dan Hadits.
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Ada pun pendapat selain Allah dan Nabi itu tidak maksum.
Sering salah dan berbeda-beda antara satu ulama dengan
ulama lainnya. Anda bisa memeriksa kebenaran ajaran guru
anda dengan memeriksa dalil Al Qur’an dan Hadits yang dia
berikan.
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian
berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat
selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku...” [HR
Imam Malik]
Guru yang baik akan memberikan anda dalil Al Qur’an dan
Hadits untuk setiap ilmu agama yang dia berikan. Sebagai
contoh, dalil untuk mengerjakan shalat dan membayar zakat
adalah:
”Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta
orang-orang yang ruku'” [Al Baqarah:43]
Ada baiknya anda berguru pada banyak guru sebagaimana
Imam Malik yang sampai mempunyai 900 guru sehingga bisa
membandingkan ajaran guru yang satu dengan yang lainnya
dan memilih dalil mana yang terkuat.
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
b. Ilmu yang Wajib Kita Pelajari adalah Ilmu yang
Bermanfaat
Anas ra berkata: Rasulullah SAW berdoa: "Ya Allah,
manfaatkanlah untuk diriku apa yang telah Engkau ajarkan
kepadaku, ajarilah aku dengan apa yang bermanfaat bagiku,
dan limpahkanlah rizqi ilmu yang bermanfaat bagiku)." Riwayat
Nasai dan Hakim.
Menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ ’Uluumuddiin,
mempelajari ilmu agama tentang kewajiban agama, serta
halal/haram adalah fardlu ’ain. Artinya setiap Muslim wajib
mempelajarinya. Contohnya karena sholat itu wajib, kita harus
mempelajari shalat. Segala macam yang berkaitan dengan
sahnya sholat seperti wudlu dan mandi junub juga harus kita
pelajari. Sebab jika kita junub dan tidak tahu cara mandi junub
sehingga kita berhadats besar, maka segala sholat yang kita
lakukan sia-sia karena bersih dari segala najis dan hadats itu
adalah syarat sahnya shalat.
Padahal Shalat itu tiang agama. Shalat adalah amal yang
pertamakali diperiksa di Hari Kiamat. Jika shalatnya rusak,
meski amalan yang lain sangat baik, otomatis ke neraka.
Bagaimana jika shalat kita masih belum betul? Jawabannya
kita harus selalu belajar/mengaji kepada para ustadz. Sebab
selama kita masih menuntut ilmu, Allah masih memaklumi. Tapi
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
jika sudah salah tidak mau belajar, ini adalah calon yang tepat
untuk menghuni neraka....
Ada pun ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Kedokteran agar kita bisa
menolong orang sakit atau ilmu Peperangan agar dapat
mempertahankan negara itu adalah Fardlu ’Ain. Jika semua
Muslim tidak melakukannya, semua berdosa. Tapi jika ada
beberapa orang yang mengerjakannya, semua terbebas dari
kewajiban itu.
Ilmu yang tidak bermanfaat bahkan membawa mudlarat seperti
ilmu sihir, ilmu ramal/nujum haram untuk dipelajari dan
diamalkan.
c. Ilmu harus Segera Diamalkan/Dikerjakan
Ilmu jika tidak diamalkan akan sia-sia. Tidak ada manfaat.
Orang yang sudah capek-capek belajar ilmu kedokteran
kemudian tidak memanfaatkannya untuk menolong orang
sebagai dokter maka ilmu itu tidak bermanfaat baginya. Jika
kita belajar doa ”Bismillahi tawakkaltu...” ketika akan bepergian
kemudian tidak membacanya maka ilmu itu tak bermanfaat
bagi kita.
Ilmu begitu didapat harus langsung diamalkan. Sebab jika
menunggu banyak kemudian baru mengamalkannya, itu
sangat...sangat berat.
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Menuntut Ilmu itu Wajib 21
Seorang alim yang tidak beramal seperti lampu yang
membakar dirinya sendiri (HR Ad-Dailami)
„Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan
yang besar.“ [Al Buruuj:11]
Di dalam Al Qur’an banyak ayat yang menulis bahwa orang
yang beriman dan beramal kebaikan akan masuk surga. Orang
yang tidak beramal akan merugi. Orang yang punya ilmu tapi
tidak mengamalkannya itu seperti pohon yang tidak berbuah.
Tidak ada manfaatnya.
d. Setelah Mengamalkan Ilmu, Ajarkan Ilmu ke Orang Lain
Setelah kita mengamalkan ilmu kita, kita juga wajib untuk
mengajarkannya.
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah
pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan
mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya
adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan
menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan
mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya
di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')
Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari
Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat sunnah
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Menuntut Ilmu itu Wajib 22
seratus rakaat. Pergi mengajarkan satu bab ilmu lebih baik
daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)
Itulah keutamaan mengajarkan ilmu. Jika kita tidak
mengajarkannya atau merahasiakannya resikonya sebagai
berikut:
Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu
dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat
dengan kendali di mulutnya dari api neraka. (HR. Abu
Daud)
e. Ajarkan Ilmu Tauhid ke Lingkungan Terdekat
Hendaknya kita mengajarkan Tauhid ke lingkungan
terdekat kita. Sebagai contoh, Luqman mengajarkan
anaknya agar tidak mempersekutukan Allah:
„Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan
Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar." [Luqman:13]
f. Kerjakan Lebih Dulu Sebelum Anda Mengajarkan Ilmu
ke Orang Lain
„Mengapa kamu suruh orang lain berbuat baik, sedang
kamu sendiri tidak mengerjakannya?...“ [Al Baqarah:44]
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Menuntut Ilmu itu Wajib 23
Itu adalah kecaman Allah terhadap orang yang sering ceramah
agar manusia berbuat baik sedang dia sendiri tidak
mengerjakan apa yang diceramahkannya.
Mengerjakan kebaikan memang hal yang sulit. Semoga Allah
SWT memberi kita kekuatan untuk melakukan itu.
Amal harus sesuai dengan ilmu. Ulama yang tidak
mengerjakan ilmunya, apalagi itu menyangkut hal yang wajib
atau haram, maka dosanya dua kali lipat dibanding dengan
orang yang biasa.
Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah
seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya. (HR Al-
Baihaqi)
Ilmu yang Bermanfaat jika Sudah Dipelajari Harus
Diimani/diyakini Kebenarannya. Kemudian Diamalkan.
Setelah itu Diajarkan


" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )