young boy reciting quran like qari abdul basit-mashallah

Surah Rahman - Beautiful and Heart trembling Quran recitation by Syed Sadaqat Ali

yatauhid.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tauhid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2009

Bid'ahkah ucapan “Shodaqallahul adzim” ?



Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ –rujukan- setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65).
Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan memberikan hidayah –dengan izin Allah- kepada sirotil azizil hamid. Allah berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64).
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi islam itu jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta !” (HR. Bukhori Muslim).
Berkat Al Imam As Syatibi, “Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan dunia…” Berkat Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata, “Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam), kemudian menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…””” (QS Al Maidah : 3).
Kaum muslimin –rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata, “Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru !”. Suatu peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah–nambah sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama. Banyak ide atau atau anggapan–anggapan baik dalam agama yang tidak ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan Iman Syafi’i, ”Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama sungguh ia telah membuat syariat baru.”
Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin -sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula –sayangnya- para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada apa memangnya dengan kalimat itu ?
Kaum muslimin –rahimakumullah-, mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.

Pertama
Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata kedua mata beliau berkaca-kaca.”
Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup”.

Kedua
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308 dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan, sampai saat Jibril menemuinya –Jibril selalu menemuinya tiap malam di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.
Tidak dinukil satu kata pun bahawa Jibril atau Nabi Muhammad ketika selesai qiroatul Quran mengucapkan “sodaqollahul adzim”.

Ketiga
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no. 799 dari hadits Anas bin Malik –radiyallahu anhuma-, “Nabi berkata kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1). Ubay berkata , ”menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun menangis”.
Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca ayat itu.

Keempat
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits Raafi’ bin Al Ma’la –radiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda, “Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah, ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul Adzim yang telah diberikan kepadaku.”
Beliau tidak mengatakan “sodaqollahul adzim”.

Kelima
Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no. 2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi pemiliknya –yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni, “tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).
Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya.

Keenam
Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’ bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun yang lebih indah suaranya darinya”.
Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “sodaqollahul adzim”.

Ketujuh
Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal “qaaf wal qur’aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.
Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya “sodaqollahul adzim” dan tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat “qaaf” mengucapkan “sodaqollahul adzim”.
Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya maka akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya adalah bid’ah –perkara yang baru- yang tidak pernah ada dan di dahului oleh genersi pertama.
Kaum muslimin –rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim” setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh firmannya, Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya daripada Allah”, dan Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik perkataanya dari pada Allah”. Barang siapa yang mendustakanya –firman Allah- maka ia kafir atau munafiq.
Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, dari bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-5 Tahun ke-1 / 10 Januari 2003 M / 06 Dzul Qo'dah 1423 H, judul asli Ucapan "Shodaqollahul Adhim" setelah Qiro`atul Qur`an Bid'ah. Url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/5.htm

" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Kamis, 23 Juli 2009

SYIRIK DALAM HAL KETAATAN

Di antara pokok aqidah Islamiyah tentang rububiyah Allah subhanahu wata’ala adalah penetapan bahwa hukum-hukum syariat dan aturan perikehidupan manusia di alam semesta ini merupakan hak kepemilikan Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah sendiri menyetarakan kedudukan hak kepemilikan hukum ini dengan hak rububiyah-Nya yang lain, yaitu hak penciptaan. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Ingatlah hanya milik-Nya hak penciptaan dan hukum. Maha Suci Rabb semesta alam.” (QS. Al A’raaf : 54)
Sedangkan konsekuensi dari penetapan hak-hak rububiyah Allah di atas adalah penetapan bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat tempat mengabdi dan menghambakan diri. Sehingga Allah lanjutkan maksud dari pemberitaan ayat tadi dengan firman-Nya:
“Berdo’alah (beribadahlah) kepada Rabb kalian dengan terus menerus dan suara lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf : 55)
Hukum syariat tersebut merupakan jalan yang Allah ? tetapkan melalui lisan para rasul-Nya yang mulia. Para rasul yang diakhiri dengan kerasulan Muhammad ? telah menyatakan sikap yang benar dan lurus di dalam wujud ketundukan mereka kepada hukum tersebut. Allah ? mengkisahkan hal tersebut di dalam Kitab-Nya :
“Katakanlah (wahai Muhammad ?) sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang sebenar-benarnya petunjuk. Dan kami diperintah untuk tunduk kepada Rabb semesta alam.” (QS. Al An’aam : 71)
Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menafsirkan ayat di atas : “Petunjuk itu tidak lain adalah jalan yang Allah syariatkan melalui lisan rasul-Nya. Adapun selain jalan itu adalah sebuah kesesatan, kehinaan dan kehancuran. ( وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ ) dengan ketundukan untuk mentauhidkan Allah, penyerahan diri untuk mentaati perintah dan larangan-Nya serta masuk di dalam kemurnian ibadah kepada-Nya”.
Nampaklah – dengan keterangan yang ringkas namun bermakna dalam dari seorang ‘alim mufassir tadi – fungsi keberadaan hukum syariat Allah di muka bumi ini yaitu untuk ditaati dengan penuh ketundukan. Terlebih ketika ketaatan yang diiringi rasa ketundukan itu merupakan bagian inti atau bahkan makna dari ibadah.
Al Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan ucapannya yang dinukilkan oleh Asy Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullah di dalam Fathul Majid 1/85 bahwa ibadah itu sendiri bermakna ketaatan. Beliau mengatakan: “Dan ibadah kepada-Nya merupakan ketaatan dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”. Inilah hakikat agama Islam karena makna Islam itu sendiri adalah penyerahan diri kepada Allah ? yang mengandung ketundukan dan penghambaan diri.”
Dari sini sangatlah tepat bila Allah ? mengutus rasul-Nya ? untuk mengingatkan Ahlul Kitab tentang prinsip ketaatan yang agung itu. Allah ? berfirman:
“Katakanlah (wahai Muhammad ?), wahai Ahlul Kitab marilah bersatu dengan kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian bahwa tidak kita sembah kecuali Allah saja, tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah pada mereka persaksikanlah bahwa kami adalah kaum muslimin.” (QS. Ali Imran : 64)
Sisi kesesuaian ayat ini untuk dibacakan kepada mereka manakala prinsip ketaatan yang hanya diberikan kepada Allah ?, mereka selewengkan kepada pendeta-pendeta dan ulama-ulama mereka di atas kemaksiatan kepada Allah ?. Selama prinsip yang batil ini ada pada mereka maka selama itu pula tidak ada ikatan persatuan antara kaum muslimin dengan mereka. Prinsip ketaatan ini benar-benar menjadi jurang pemisah antara kaum muslimin dengan Ahlul Kitab.
Memang prinsip ketaatan yang batil ini merupakan ciri khas yang paling mencolok dalam akidah Ahlul Kitab. Allah ? beritakan di dalam firman-Nya :
“Mereka (Ahlul Kitab) menjadikan ulama dan pendeta mereka sebagai rabb-rabb selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam. Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Dia saja. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah : 31)
Asy Syaikh As Sa’di rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan : “Mereka (para pendeta dan ulama Ahlul Kitab) menghalalkan untuk para pengikutnya apa-apa yang Allah ? haramkan maka mereka pun ikut menghalalkannya. Demikian pula ketika mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah ? maka para pengikutnya pun ikut juga mengharamkannya. Mereka membuat syariat dan pemikiran yang bertentangan dengan ajaran para rasul maka para pengikut mereka mengikutinya. Mereka (para pengikut itu) juga berlebih-lebihan terhadap ulama dan ahli ibadah, mengagungkan, menjadikan kubur-kubur mereka sebagai berhala yng diibadahi selain Allah ? yang ditujukan sembelihan, do’a dan istighatsah kepada kubur-kubur itu.”
Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memberikan tambahan faidah yang berharga di dalam salah satu fatwa beliau: “Maka Allah ? menamai orang-orang yang diikuti itu dengan sebutan rabb tatkala mereka dijadikan sebagai pembuat syariat bersama Allah. Dan Dia menamai para pengikut dengan sebutan para penyembah tatkala mereka tunduk dan taat kepada para pemimpinnya di dalam bermaksiat kepada Allah ?.”
Hendaklah kita menyadari dengan sepenuhnya bahwa ketaatan Ahlul Kitab kepada selain Allah di dalam kemaksiatan bukan hanya merusak dan mengancam kemurnian tauhid uluhiyah mereka, bahkan menodai kesempurnaan keyakinan bahwa hukum itu mutlak milik Allah yang berarti telah masuk dalam rangkaian tauhid rububiyah-Nya. Maha Suci Allah dari perbuatan dhalim mereka.
Asy Syaikh As Sa’di mengungkapkan kebatilan ini ketika mengomentari ayat ke : 64 dari surat Ali Imran yang telah lalu : “Maka janganlah mentaati makhluk-makhluk Allah dalam bermaksiat kepada-Nya karena hal itu berarti menjadikan makhluk-makhluk tersebut menempati kedudukan rububiyah Allah.”
Keberadaan iman seseorang yang terkait dengan ketaatan yang mungkar ini sangat dipengaruhi dengan keyakinan yang ada pada hatinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Majmu’ Fatawa 7/ 70 berkata : “Mereka orang-orang yang telah menjadikan para ahli ibadah dan ulama sebagai rabb-rabb selain Allah dengan mentaatinya di dalam penghalalan apa yang Allah haramkan dan pengharaman apa yang Allah halalkan terbagi menjadi dua jenis :
Pertama : Mereka mengetahui bahwa para ahli ibadah dan ulama itu telah merubah agama Allah kemudian mereka mengikutinya. Mereka meyakini tentang penghalalan apa yang Allah haramkan dan pengharaman apa yang Dia halalkan dalam rangka mengikuti pemimpin-pemimpin itu. Padahal mereka telah mengetahui bahwa para pemimpin tersebut telah menyelisihi agama para rasul. Maka ini adalah kekufuran. Allah dan rasul-Nya telah menjadikan perbuatan tersebut sebagai kesyirikan walaupun mereka tidak shalat dan sujud kepada para pemimpin tersebut. Maka siapa saja yang mengikuti seseorang di dalam menyelisihi agama Allah padahal dia telah mengetahui dan meyakini bahwa apa yang orang itu katakan bukanlah perkataan Allah dan rasul-Nya adalah seorang musyrik seperti halnya mereka (Ahlul Kitab).
Kedua : Mereka masih meyakini dan mengimani tentang haramnya apa yang diharamkan Allah dan halalnya apa yag dihalalkan-Nya. Namun mereka mentaati para pemimpinnya dalam kemaksiatan kepada Allah sebagaimana yang dilakukan seorang muslim berupa perbuatan-perbuatan maksiat yang dia masih meyakini bahwa perbuatan itu benar-benar kemaksiatan. Maka mereka dihukumi sebagai pelaku dosa besar sebagaimana yang telah shahih dari Nabi ? bahwa beliau bersabda
: ِإنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ
“Hanyalah ketaatan itu di dalam perkara yang benar.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Siapapun dari umat ini janganlah merasa aman untuk tidak terjatuh ke dalam perbuatan yang pernah dan sedang menimpa Ahlul Kitab hingga hari ini. Peringatan Allah ? kepada Ahlul Kitab merupakan peringatan bagi umat ini juga. Lebih-lebih ketika Nabi ? pernah bersabda:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَذْوَ الْقُذَّةِ بِالْقُذَّةِ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَ النَّصَارَى ؟ قَالَ : فَمَنْ
“Sungguh-sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian seperti bulu anak panah yang menyerupai bulu anak panah yang lainnya. Sampai pun kalau mereka memasuki lubang biawak maka pasti kalian akan memasukinya juga. Mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah mereka Yahudi dan Nashara ?” Beliau menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Sungguh telah terjadi sabda Nabi ? yang tidaklah beliau berbicara melainkan semata-mata dari wahyu Allah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang akan terjadi. Apakah ketaatan Ahlul Kitab kepada para pemimpin mereka dalam kemaksiatan kepada Allah termasuk perkara yang sulit untuk ditiru umat ini yang beliau ? permisalkan dengan lubang biawak? Sekali-kali bukan. Terlalu banyak di antara umat ini -mudah-mudahan Allah ? selamatkan mereka- yang mentaati para pemimpinnya dalam kemaksiatan kepada Allah. Jauhnya mereka dari bimbingan akidah yang benar memaksa mereka untuk mengikuti segala tindak tanduk dan ucapan para pemimpinnya tanpa mau menengok ucapan Allah dan rasul-Nya. Tidak sedikit para anggota organisasi Islam sekalipun yang mengikuti dan taat terhadap undang-undang yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Terlalu sulit untuk dihitung jumlah penganut agama yang terbesar di negeri ini yang mendudukkan undang-undang manusia yang penuh kekurangan setingkat dengan undang-undang Allah dan rasul-Nya yang sempurna. Bahkan tatkala undang-undang mereka bertentangan dengan undang-undang Allah maka mereka dahulukan undang-undang mereka daripada undang-undang Allah dan rasul-Nya. Bagaimana pula umat yang mengharapkan hukum Allah dan rasul-Nya tegak di bumi ini justru menjadi umat terdepan di dalam memutuskan suatu perkara dengan selain keputusan Allah dan rasul-Nya. Apakah tidak terlintas sedikitpun di dalam benak-benak mereka bahwa tidaklah mungkin hukum Allah dan rasul-Nya tegak dengan mendudukkan hukum Allah dan rasul-Nya di bawah hukum manusia ?! Tidaklah mereka berhenti dan bertaubat kepada Allah melainkan ketika lepas dari jeratan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan. Wallahul Musta’an.


" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Selasa, 21 Juli 2009

Jangan Meremehkan Dosa

Senin, 07 April 2008 - 06:30:27, Penulis : Al-Ustadz Abu Muhammad AbdulMu’thi

(pengasuh ma’had al-anshor ,sleman Yogyakarta )

JANGAN MEREMEHKAN DOSA


Manusia adalah makhluk yang lalai. Tidak hanya lalai untuk mengerjakan amal ketakwaan namun juga lalai dari dosa-dosa. Lebih memilukan lagi jika manusia acap mengentengkan dosa atau maksiat yang ia perbuat. Seolah-olah dengan sikapnya itu, ia aman dari adzab Allah Subhanahu wa Ta'ala di dunia ataupun di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan bumi dan menghiasinya dengan berbagai
perhiasan yang indah dan menawan untuk menguji hamba-Nya, siapa di antara mereka yang taat kepada-Nya dan siapa yang membangkang perintah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً. وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang ada di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (Al-Kahfi: 7-8)
Diperintahnya hamba untuk melakukan kebaikan dan dilarangnya dari kemaksiatan adalah semata-mata demi kebaikan hamba, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat penyayang terhadap manusia. Dan suatu hal yang pasti bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan suatu kebaikan sekecil apapun kecuali pasti di dalamnya terkandung maslahat, baik disadari ataupun tidak. Demikian pula jika melarang sesuatu, tentu di dalamnya terdapat mudarat yang membahayakan hamba.

Kewajiban Mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Takut Kepada-Nya
Tak kenal maka tak sayang. Demikian keadaan orang yang tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sehingga, sesuai dengan kadar pengetahuan seseorang terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebatas itu pula pengagungannya terhadap-Nya. Sesungguhnya mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar pengenalan merupakan pokok kebaikan. Dengannya, seseorang selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga tidaklah dia berucap kecuali yang benar dan tidak berbuat melainkan yang baik. Berbeda dengan orang yang tidak mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benar pengenalan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.” (Az-Zumar: 67)
Ayat ini mencakup setiap orang yang meremehkan kedudukan Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti orang-orang atheis yang mengingkari adanya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Demikian pula orang–orang musyrik yang meyakini adanya Allah Subhanahu wa Ta'ala serta meyakini bahwa Ia yang mengatur alam semesta, namun dalam beribadah mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan makhluk-Nya. Ayat ini juga meliputi orang–orang yang mengingkari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan sifat-sifat-Nya atau memercayainya tetapi menakwilkannya dengan selain makna yang sesungguhnya.
Termasuk meremehkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah bermaksiat kepada-Nya dan melakukan apa yang diharamkan-Nya berupa kemaksiatan, serta meninggalkan ketaatan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala wajibkan.
Suatu hal yang tidak diragukan lagi bahwa orang yang membangkang kepada makhluk (misalnya raja) berarti dia telah meremehkannya. Bagaimana dengan orang yang membangkang terhadap Al-Khaliq (Allah Subhanahu wa Ta'ala)?! (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Al-Fauzan, 2/442-447)

Sebab-sebab Terjatuhnya Seseorang dalam Maksiat
Sesungguhnya lemahnya keimanan dan keyakinan seseorang terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang menciptakan makhluk dan yang mengaturnya, merupakan perkara yang berbahaya. Tidak adanya perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyebabkan seseorang meremehkan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala dan ancaman-Nya. Janji-Nya di dunia (bagi yang taat) adalah kemenangan dan kebahagiaan, serta di akhirat adalah surga yang luasnya seperti langit dan bumi. Adapun ancaman-Nya (bagi yang membangkang) di dunia adalah kehinaan dan ketidaktentraman, serta di akhirat kelak adalah belenggu yang melilit tubuhnya dan diseret ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan atas hamba yang beriman untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta takut kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Adalah ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: “Kalau seandainya ada yang memanggil dari langit: ‘Wahai manusia, seluruh kalian masuk surga kecuali satu orang,’ maka saya khawatir bahwa sayalah orangnya.”
Di antara sebab terjatuhnya seseorang ke dalam maksiat adalah kebodohan seseorang tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala dan syariat-Nya. Kebodohan merupakan penyakit kronis yang jika tidak segera diobati akan membinasakan pemiliknya. Obat dari kebodohan adalah mempelajari Al-Qur`an dan Sunnah (hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam).
Cinta dunia dan tenggelam dalam kelezatannya sehingga melalaikan dari ketaatan juga faktor utama yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam dosa. Demikian pula lalai dengan tujuan hidup yang sesungguhnya serta tidak mau mengambil pelajaran dari yang telah lewat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian dan takutlah suatu hari yang (pada hari itu) seorang ayah tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong ayahnya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayamu dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayamu dalam menaati Allah.” (Luqman: 33)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا فَنَقَّبُوا فِي الْبِلاَدِ هَلْ مِنْ مَحِيصٍ
“Dan berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, padahal mereka (yang telah dibinasakan itu) pernah menjelajahi beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (Qaf: 36) [Lihat Taujihul Muslimin ila Thariq An-Nashri Wat Tamkin karya Muhammad Jamil Zainu, dkk, hal. 39-45)

Tingkatan-tingkatan Dosa
Dosa adalah bentuk pelanggaran terhadap larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala atau meninggalkan apa yang diperintahkan-Nya. Dan dosa itu bertingkat-tingkat kejahatannya. Ada yang besar dan ada pula yang kecil. Adapun dosa besar adalah setiap pelanggaran yang pelakunya mendapatkan had (hukuman yang telah ada ketentuannya dari syariat) seperti membunuh, berzina dan mencuri, atau yang ada ancaman secara khusus di akhirat nanti berupa adzab dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau yang pelakunya dilaknat melalui lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Kaba`ir karya Adz-Dzahabi rahimahullahu hal. 13-14, cet. Maktabah As Sunnah)
Adapun jumlah dosa besar lebih dari tujuh puluh. Sekian banyak dosa besar itupun bertingkat-tingkat. Ada dosa besar yang paling besar misalnya syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan durhaka kepada orangtua. Karena bahaya yang mengancam pelaku dosa besar di dunia dan di akhirat nanti, kita dapati sebagian ulama Ahlus Sunnah menulis kitab tentang dosa-dosa besar (al-kaba`ir) semisal Al-Imam Adz-Dzahabi dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah. Hal ini agar orang tahu tentang dosa-dosa besar sehingga mereka akan menjauhinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan surga dan ampunan-Nya bagi yang menjauhi dosa-dosa besar sebagaimana dalam firman-Nya:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An-Nisa`: 31)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjadikan orang yang meninggalkan dosa-dosa besar masuk dalam golongan orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ اْلإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Maka segala sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang–orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal, dan bagi orang–orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Asy-Syura: 36-37)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلاَة ُالْـخَمْسُ وَالْـجُمُعَةُ إِلَى الْـجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu dan Jum’at ke Ju’mat (berikutnya) adalah penghapus apa yang di antaranya dari dosa selagi dosa besar tidak didatangi (dilakukan).” (HR. Muslim Kitabut Thaharah Bab Fadhlul Wudhu wash Shalah ‘Aqibihi no. 233 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Kapan suatu Dosa menjadi Besar?
Ketika hendak melakukan dosa, janganlah melihat kepada kecilnya dosa. Namun lihatlah, kepada siapa dia berbuat dosa? Patutkah bagi seseorang yang diciptakan dan diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sarana yang lengkap dan cukup, lantas melanggar larangan-Nya?!
Sesungguhnya suatu dosa bisa menjadi besar karena hal-hal berikut:

1. Dosa yang dilakukan secara rutin. Sehingga dahulu dikatakan: “Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diikuti istighfar (permintaan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala).”

2. Menganggap remeh suatu dosa. Ketika seorang hamba menganggap besar dosa yang dilakukannya maka menjadi kecil di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun jika ia menganggap kecil maka menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam suatu atsar bahwa seorang mukmin melihat dosa-dosanya laksana dia duduk di bawah gunung di mana ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia halau dengan tangannya. (Shahih Al-Bukhari no. 6308)

3. Bangga dengan dosa yang dilakukannya serta menganggap bisa melakukan dosa sebagai suatu nikmat. Setiap kali seorang hamba menganggap manis suatu dosa, maka menjadi besar kemaksiatannya serta besar pula pengaruhnya dalam menghitamkan hati. Karena setiap kali seorang berbuat dosa, akan dititik hitam pada hatinya.

4. Menganggap ringan suatu dosa karena mengira ditutupi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diberi tangguh serta tidak segera dibeberkan atau diadzab. Orang yang seperti ini tidak tahu bahwa ditangguhkannya adzab adalah agar bertambah dosanya.

5. Sengaja menampakkan dosa di mana sebelumnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mendorong orang yang pada dirinya ada bibit–bibit kejahatan untuk ikut melakukannya. Demikian pula orang yang sengaja berbuat maksiat di hadapan orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Semua umatku dimaafkan oleh Allah kecuali orang yang berbuat (maksiat) terang-terangan.

Dan di antara bentuk menampakkan maksiat adalah seorang melakukan pada malam hari perbuatan (dosa) dan berada di pagi hari Allah menutupi (tidak membeberkan) dosanya lalu dia berkata: ‘Wahai Si fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begini.’ Padahal dia berada di malam hari ditutupi oleh Rabbnya namun di pagi hari ia membuka apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tutupi darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan: “Menampakkan maksiat merupakan bentuk pelecehan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya, dan orang–orang shalih dari kaum mukminin…” (Fathul Bari, 10/486)

Sebagian salaf mengatakan: “Janganlah kamu berbuat dosa. Jika memang terpaksa melakukannya, maka jangan kamu mendorong orang lain kepadanya, nantinya kamu melakukan dua dosa.”
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ
“Orang–orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf.” (At-Taubah: 67)

6. Dosa menjadi besar jika dilakukan seorang yang alim (berilmu) yang menjadi panutan. (Lihat Taujihul Muslimin ila Thariq An-Nashri Wat Tamkin hal. 29-32 karya Muhammad Jamil Zainu)



Pengaruh Dosa atau Maksiat

Pengaruh dosa terhadap hati seperti bahayanya racun bagi tubuh.Dan tidak ada suatu kejelekan di dunia dan di akhirat kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat.
Apakah yang menyebabkan Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga -tempat yang penuh kelezatan dan kenikmatan- kepada negeri yang terdapat berbagai penderitaan (dunia)?!
Apa pula yang menyebabkan Iblis diusir dari kerajaan yang ada di langit serta mendapat kutukan Allah ?!
Dengan sebab apa kaum Nabi Nuh 'alaihissallam yang kufur ditenggelamkan oleh banjir, kaum ‘Aad dibinasakan oleh angin, serta berbagai siksaan di dunia yang menimpa umat-umat terdahulu sehingga ada yang diubah tubuhnya menjadi kera dan babi?!
Itu semua adalah akibat dari dosa yang mereka lakukan. Hendaklah peristiwa yang telah berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena orang yang baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain dan bukan menjadi pelajaran yang jelek bagi generasi setelahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)
Dosa menghalangi seorang dari memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu merupakan cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta'ala letakkan pada hati seseorang, sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu duduk di hadapan gurunya, Al-Imam Malik rahimahullahu, sang guru melihat kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i rahimahullahu. Maka ia berpesan kepadanya: “Sungguh, aku memandang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka janganlah kau padamkan dengan gelapnya kemaksiatan.”
Maksiat menyebabkan seorang terhalang dari rizki, sebagaimana sebaliknya yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mendatangkan rizki.
Adanya kegersangan pada hati orang yang berbuat maksiat dan kesenjangan antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Disulitkan urusannya, sehingga tidaklah ia menuju kepada suatu perkara kecuali ia mendapatkannya tertutup.
Kegelapan yang ia dapatkan pada hatinya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: “Sesungguhnya kebaikan mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki, kuatnya badan, dan dicintai oleh makhluk. Sedangkan kejelekan (kemaksiatan) akan menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, dan kebencian hati para makhluk.
Kemaksiatan melenyapkan barakah umur serta memendekkannya. Karena, sebagaimana kebaikan menambahkan umur, maka (sebaliknya) kedurhakaan memendekkan umur.
Tabiat dari kemaksiatan adalah melahirkan kemaksiatan yang lainnya. Lihatlah hasad yang ada pada saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihissallam yang menyeret mereka kepada tindakan memisahkan antara bapak dan anaknya sehingga menimbulkan kesedihan pada orang lain, memutuskan hubungan kekerabatan, berucap dengan kedustaan, membodohi orang, dan yang sejenisnya.
Kemaksiatan menjadikan seorang hamba hina di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Mereka (pelaku maksiat) rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya, karena seandainya mereka orang yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Allah k akan jaga mereka dari dosa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)
Kemaksiatan mengundang kehinaan, merusak akal. Dan jika dosa telah banyak maka pelakunya akan ditutup hatinya sehingga digolongkan sebagai orang–orang yang lalai.
Dosa memunculkan berbagai kerusakan di muka bumi, pada air, udara, tanaman, buah-buahan, dan tempat tinggal.
Kemaksiatan menghilangkan sifat malu yang merupakan pokok segala kebaikan serta melemahkan hati pelakunya.
Kemaksiatan menyebabkan hilangnya nikmat dan mendatangkan adzab. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: “Tidaklah turun suatu bencana kecuali karena dosa, dan tidaklah dicegah suatu bencana kecuali dengan taubat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30) [Lihat Al-Jawabul Kafi: 113-208, Taujihul Muslimin hal. 58-61]

Pelajaran dan Nasihat
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan Adam 'alaihissallam dengan Tangan-Nya, Ia memuliakannya di hadapan para malaikat dengan memerintahkan mereka sujud kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarinya nama-nama segala sesuatu serta menempatkannya bersama istrinya Hawa di dalam surga, tempat berhuninya beragam nikmat. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memperingatkan kepada keduanya dari bahaya godaan Iblis serta melarang keduanya dari memakan dari buah pohon di surga, sebagai ujian.
Tetapi Iblis yang terkutuk selalu menggoda dengan bujuk rayunya yang manis hingga Adam dan Hawa memakan dari pohon yang terlarang tersebut. Keduanya pun bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dengan serta-merta lepaslah baju keduanya sehingga tampak auratnya. Kemudian keduanya dikeluarkan dari surga ke bumi, tempat yang penuh dengan kekeruhan dan keletihan. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala masih sayang kepada mereka berdua di mana keduanya sadar akan kesalahannya dan bertaubat sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuninya.
Perhatikan peristiwa yang menimpa Adam dan Hawa! Tadinya menempati surga dengan keindahannya serta dihormati oleh malaikat. Namun dengan satu kemaksiatan, kemuliaan dicabut, bajupun menjadi lepas sehingga tersingkap auratnya, serta harus menjalani kehidupan yang sengsara di dunia setelah sebelumnya hidup sentosa di surga.
Demikian pula di saat perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menempatkan pasukan pemanah di atas bukit. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada mereka untuk tidak meninggalkan posisi mereka baik muslimin kalah atau menang. Pada awalnya muslimin mampu memukul mundur pasukan musyrikin sehingga tiba saatnya mereka memunguti harta rampasan perang.
Para pemanah menyangka bahwa perang telah usai dan mengira tidak ada manfaatnya lagi mereka tetap di atas bukit. Sehingga sebagian mereka ingin turun, tetapi ditegur oleh sebagian yang lain dengan pesan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tidak turun. Namun sebagian nekad turun dan bermaksiat pada perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itulah sebagian musyrikin melihat benteng pertahanan muslimin di atas bukit telah bisa ditembus sehingga mereka menyerang dari belakang bukit sisa-sisa pasukan pemanah sehingga mereka terbunuh.
Mereka pun menyerang muslimin dari belakang dalam keadaan pedang-pedang telah dimasukkan ke dalam sarungnya. Lalu datang pula serangan dari depan hingga mereka terjepit. Gugurlah sekian sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai syuhada dan sebagian lagi terluka, sampai Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun terluka dan terperosok ke dalam lubang yang dibuat oleh musyrikin. Sehingga mereka pulang ke Madinah dengan kekalahan, kaki terseok-seok, serta tubuh yang penuh luka. Itu semua disebabkan kemaksiatan sebagian pasukan muslimin.
Cobalah perhatikan! Dengan satu kemaksiatan, kemenangan yang sudah di depan mata hilang. Dan pahitnya kekalahan dirasakan oleh seluruh pasukan, padahal di dalamnya ada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Maka bisa dibayangkan bagaimana orang–orang yang setiap saat melanggar perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak takutkah mereka terhadap adzab yang akan ditimpakan?!

Tidak Mengentengkan Dosa
Terkadang seseorang menganggap enteng suatu dosa terlebih jika itu dosa kecil. Sehingga ia terus-menerus melakukannya dan kurang memedulikannya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan akan hal ini dengan sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, dan lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d radhiyallahu 'anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Waspadalah dari dosa dan jangan tertipu karena kecil atau sedikitnya. Lihatlah bagaimana dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memotong tangan seorang pencuri karena mencuri (hanya) 3 dirham seperti dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6795).
Dan seorang wanita masuk neraka gara-gara kucing yang dikurungnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepasnya agar bisa memakan serangga bumi sehingga kurus dan mati. (Lihat Shahih Muslim no. 2619)
Demikian pula dahulu di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ada seorang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga para sahabat memberikan ucapan selamat kepadanya. Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: “Tidak. Sesungguhnya pakaian yang dia curi dari harta rampasan perang Khaibar yang belum dibagi-bagi akan menyala atasnya api neraka.” [Lihat Shahih Muslim no.115 Kitabul Iman]

Menjauhi Tempat Maksiat
Pelaku maksiat membawa kesialan bagi dirinya dan orang lain. Sebab dikhawatirkan akan turun kepadanya adzab yang menyebar kepada yang lainnya, terkhusus bagi yang tidak mengingkari kemaksiatannya. Sehingga menjauh dari pelaku maksiat adalah suatu keharusan. Karena, jika kejahatan telah merajalela maka manusia akan binasa secara umum.
Demikian pula tempat-tempat orang yang bermaksiat dan tempat diadzabnya pelaku maksiat harus dijauhi karena dikhawatirkan turunnya adzab. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabatnya tatkala melewati daerah kaum Tsamud yang diadzab Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya): “Janganlah kalian masuk kepada mereka-mereka yang diadzab kecuali dengan menangis, karena dikhawatirkan akan menimpa kalian apa yang telah menimpa mereka.” (HR. Ahmad, lihat Ash-Shahihah no. 19)
Demikian pula tatkala ada seorang dari Bani Israil yang telah membunuh seratus nyawa lalu ia ingin bertaubat dan bertanya kepada seorang ‘alim, apakah masih ada taubat baginya? Dia menjawab: ”Ya.” Lalu dia menyarankan orang itu untuk pergi dari kampungnya yang jahat ke kampung yang baik.
Dari sini jelas bahwa menjauhi tempat-tempat maksiat dan pelaku maksiat termasuk perkara yang diperintahkan. Ibrahim bin Ad-ham rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa ingin taubat, hendaklah ia keluar dari tempat-tampat kedzaliman serta meninggalkan bergaul dengan orang yang dahulu ia bergaul dengannya (dalam maksiat). Jika hal ini tidak dilakukan maka dia tidak mendapatkan yang diharapkan.”
Waspadailah dosa karena dia suatu kesialan! Akibatnya sangat tercela, hukumannya pedih, hati yang menyukainya berpenyakit. Terbebas dari dosa suatu keberuntungan, selamat dari dosa tak ternilaikan, dan terfitnah (diuji) dengan dosa terlebih setelah rambut beruban adalah musibah besar. (Lihat Qala Ibnu Rajab hal. 53-55)

Segera Kembali ke Jalan Allah
Wahai orang yang tenggelam dalam dosa dan perbuatan nista, kembalilah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala! Sadarlah bahwa kamu akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatanmu di dunia ini! Belumkah tiba saatnya engkau berhenti dari diperbudak setan yang ujungnya engkau menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala?! Lepaskanlah belenggu setan yang melilit dirimu, dan larilah menuju Ar-Rahman (Allah Subhanahu wa Ta'ala) dengan bersimpuh di hadapan-Nya, niscaya kamu diberi jaminan keamanan dan kebahagiaan. Lembaran hitam kelammu akan diganti dengan yang putih lagi bersih serta akan dibentangkan di hadapanmu jalan yang terang. Bersegeralah sebelum segala sesuatunya terlambat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang–orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)
Wallahu a’lam.


" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Kamis, 16 Juli 2009

Iman, Islam, dan Ihsan

. Iman, Islam, dan Ihsan
Pokok ajaran Islam ada 3, yaitu: Iman, Islam dan Ihsan.
Dasarnya adalah hadits sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) dudukduduk
bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami
seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan
tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun
dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap
Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki
Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas
paha Rasulullah Saw, seraya berkata, "Ya Muhammad,
beritahu aku tentang Islam." Lalu Rasulullah Saw menjawab,
"Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah
dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila
mampu." Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku
tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya."
Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang
ihsan." Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolaholah
anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya,
karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi,
"Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)." Rasulullah
menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Iman, Islam, dan Ihsan 42
Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tandatandanya."
Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita
melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal,
setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masingmasing
berlomba membangun gedung-gedung bertingkat."
Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.
Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar,
tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku
(Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui."
Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk
mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)
a. Rukun Iman 6 Perkara
Iman adalah keyakinan kita pada 6 rukun iman. Islam adalah
pokok-pokok ibadah yang wajib kita kerjakan. Ada pun Ihsan
adalah cara mendekatkan diri kita kepada Allah.
Tanpa iman semua amal perbuatan baik kita akan sia-sia.
Tidak ada pahalanya di akhirat nanti:
” Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana
fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh
orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu
dia tidak mendapatinya sesuatu apapun...” [An Nuur:39]

” Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalanamalan
mereka adalah seperti abu yang ditiup angin
dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang.
Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa
yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu
adalah kesesatan yang jauh.” [Ibrahim:18]
Iman ini harus dilandasi ilmu yang mantap sehingga kita bisa
menjelaskannya kepada orang lain. Bukan sekedar taqlid atau
ikut-ikutan.
Sebagaimana hadits di atas, rukun Iman ada 6. Pertama Iman
kepada Allah. Artinya kita meyakini adanya Allah dan tidak ada
Tuhan selain Allah. Di bab-bab berikutnya akan dijelaskan
secara rinci tentang hal ini.
Rukun Iman yang kedua adalah iman kepada Malaikat-malaikat
Allah. Kita yakin bahwa Malaikat adalah hamba Allah yang
selalu patuh pada perintah Allah.
Rukun Iman yang ketiga adalah beriman kepada KitabkitabNya.
Kita yakin bahwa Allah telah menurunkan Taurat
kepada Musa, Zabur kepada Daud, Injil kepada Isa, dan Al
Qur’an kepada Nabi Muhammad. Namun kita harus yakin juga
bahwa semua kitab-kitab suci di atas telah dirubah oleh


manusia sehingga Allah kembali menurunkan Al Qur’an yang
dijaga kesuciannya sebagai pedoman hingga hari kiamat nanti.
”Maka kecelakaan yng besar bagi orang-orang yang
menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu
dikatakannya; "Ini dari Allah", dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan
itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat
apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan
kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang
mereka kerjakan.” [Al Baqarah:79]
Kita harus meyakini kebenaran Al Qur’an dan
mengamalkannya:
”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]
Rukun Iman yang keempat adalah beriman kepada Rasul-rasul
(Utusan) Allah. Rasul/Nabi merupakan manusia yang terbaik
yang pantas dijadikan suri teladan yang diutus Allah untuk
menyeru manusia ke jalan Allah. Ada 25 Nabi yang disebut
dalam Al Qur’an yang wajib kita imani di antaranya Adam, Nuh,
Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad.


Karena ajaran Nabi-Nabi sebelumnya telah dirubah ummatnya,
kita harus meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi
terakhir yang harus kita ikuti ajarannya.
” Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di
antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup
nabi-nabi...” [Al Ahzab:40]
Rukun Iman yang kelima adalah beriman kepada Hari Akhir
(Kiamat/Akhirat). Kita harus yakin bahwa dunia ini fana. Suatu
saat akan tiba hari Kiamat. Pada saat itu manusia akan dihisab.
Orang yang beriman dan beramal saleh masuk ke surga.
Orang yang kafir masuk neraka.
Selain kiamat besar kita juga harus yakin akan kiamat kecil
yaitu mati. Setiap orang pasti mati. Untuk itu kita harus selalu
hati-hati dalam bertindak.
Rukun Iman yang keenam adalah percaya kepada
Takdir/qadar yang baik atau pun yang buruk. Meski manusia
wajib berusaha dan berdoa, namun apa pun hasilnya kita harus
menerima dan mensyukurinya sebagai takdir dari Allah.
b. Rukun Islam 5 Perkara


Ada pun rukun Islam terdiri dari 5 perkara. Barang siapa yang
tidak mengerjakannya maka Islamnya tidak benar karena
rukunnya tidak sempurna.
Rukun Islam pertama yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Asyhaadu
alla ilaaha illallaahu wa asyhaadu anna muhammadar
rasuulullaah. Artinya kita meyakini hanya Allah Tuhan yang
wajib kita patuhi perintah dan larangannya. Jika ada perintah
dan larangan dari selain Allah, misalnya manusia, yang
bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, maka Allah
yang harus kita patuhi. Ada pun Muhammad adalah utusan
Allah yang menjelaskan ajaran Islam. Untuk mengetahui ajaran
Islam yang benar, kita berkewajiban mempelajari dan mengikuti
ajaran Nabi Muhammad.
Konsekwensi dari 2 kalimat syahadat adalah kita harus
mempelajari dan memahami Al Qur’an dan Hadits yang sahih
(minimal Kutuubus sittah: Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi,
An Nasaa’i, dan Ibnu Majah) dan mengamalkannya.
Rukun Islam kedua adalah shalat 5 waktu, yaitu: Subuh 2
rakaat, Dzuhur dan Ashar 4 raka’at, Maghrib 3 rakaat, dan Isya
4 raka’at. Shalat adalah tiang agama barang siapa
meninggalkannya berarti merusak agamanya.


Rukun Islam ketiga adalah puasa di Bulan Ramadhan. Yaitu
menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, bertengkar,
marah, dan segala perbuatan negatif lainnya dari subuh hingga
maghrib.
Rukun Islam keempat adalah membayar zakat bagi para
muzakki (orang yang wajib pajak/mampu). Ada pun orang yang
mustahiq (berhak menerima zakat seperti fakir, miskin, amil,
mualaf, orang budak, berhutang, Sabilillah, dan ibnu Sabil)
berhak menerima zakat. Zakat merupakan hak orang miskin
agar harta tidak hanya beredar di antara orang kaya saja.
Rukun Islam yang kelima adalah berhaji ke Mekkah jika
mampu. Mampu di sini dalam arti mampu secara fisik dan juga
secara keuangan. Sebelum berhaji, hutang yang jatuh tempo
harus dibayar dan keluarga yang ditinggalkan harus diberi
bekal yang cukup. Nabi berkata barang siapa yang mati tapi
tidak berhaji padahal dia mampu, maka dia mati dalam
keadaan munafik.
c. Ihsan Mendekatkan Diri kepada Allah
Ada pun Ihsan adalah cara agar kita bisa khusyuk dalam
beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita
melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah
SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. Ihsan ini harus kita


terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga jika kita
berbuat baik, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk
Allah. Sebaliknya jika terbersit niat kita untuk berbuat
keburukan, kita tidak mengerjakannya karena Ihsan tadi.
Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena
dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya.
Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin
Allah melihat perbuatannya.
Itulah sekilas pokok-pokok dari ajaran Islam. Semoga kita
semua bisa memahami dan mengamalkannya. Insya Allah
dalam bab-bab selanjutnya beberapa hal di atas akan dibahas
lebih rinci lagi.


" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Niat:Awal dan penentu Semua Amal

Niat: Awal dan Penentu Semua Amal
Shaleh
Niat merupakan rukun pertama dari semua amal shaleh
(perbuatan baik) yang kita lakukan. Tanpa niat segala amal
ibadah kita sia-sia. Shalat, Puasa, Zakat, Haji kita batal jika
tidak ada niat. Tidak ada pahalanya.
"Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka
tidak ada puasa baginya." [Imam Lima]
”Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya,
dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya
kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan
rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan
dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada
apa yang ia hijrahi” (HR Bukhari)
”Niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya” (HR Al-
Baihaqi dan Ar-Rabii')
”Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niatniat
mereka” (HR Muslim)
Sebagaimana hadits di atas, niat bermacam-macam. Ada yang
niat mengerjakan sesuatu untuk Allah, ada pula untuk yang lain



seperti kesenangan dunia seperti pamer, harta, jabatan atau
wanita.
a. Niat yang Baik untuk Mendapat Ridha Allah SWT
Niat yang bagus adalah niat untuk mendapat ridho Allah SWT.
Atau untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
”Di antara orang-orang Arab Badwi ada orang yang beriman
kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang
dinafkahkannya di jalan Allah untuk mendekatkannya kepada
Allah dan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah,
sesungguhnya nafkah itu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat
(surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” [At Taubah:99]
Orang yang berbuat kebaikan hanya untuk mendapat ridho
Allah akan mendapat pahala berlipat ganda:
”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa
dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada
tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran)
bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-
Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Al Baqarah:261]
”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan
hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan


jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran
tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu
menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak
menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah
Maha Melihat apa yang kamu perbuat” [Al Baqarah:265]
Niat kita harus benar-benar tulus hanya untuk Allah. Bukan
dengan lainnya:
Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada
syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan
untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga)
kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia
untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no.
4202, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah,
“aku tinggalkan dia dan kesyirikannya”).
b. Tidak Boleh Niat karena Riya atau Pamer
Sering orang melakukan suatu kebaikan hanya karena riya.
Ingin dilihat orang sehingga orang mengatakan bahwa dia
adalah dermawan, pahlawan, dan sebagainya. Meski dia tidak
mengharapkan imbalan apa-apa kecuali dikenal orang sebagai
orang yang baik, dermawan atau philanthropist, Allah
mengatakan orang seperti itu sebagai teman setan dan
memberikan neraka sebagai balasannya:
Belajar Iman, Islam, dan Ihsan
Niat: Awal dan Penentu Semua Amal Shaleh 37
”Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta
mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang
tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.
Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya,
maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya” [An
Nisaa’:38]
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ ’Uluumuddiin menggambarkan
orang yang riya sebagai berikut. Jika ada orang yang
melihatnya, baru dia shalat atau berbuat kebaikan lainnya. Tapi
jika tidak ada orang yang melihat, dia tidak mengerjakannya.
Orang seperti itu seperti orang yang shalat hanya jika ada
budak yang melihatnya di samping rajanya. Tapi begitu budak
itu tidak ada, yang tinggal hanya raja, dia bermalas-malasan.
Begitulah sikap orang yang riya terhadap Allah Raja Diraja,
Tuhan Semesta alam. Orang riya macam ini hanya membuat
gemas orang saja....
Orang yang menyebut kebaikan yang diperbuatnya, apalagi
sampai menyinggung hati orang yang menerima kebaikannya,
pahalanya hilang tidak berbekas:
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebutnyebutnya
dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan
dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka

perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah dia
bersih tidak bertanah. Mereka tidak mendapat apa-apa dari
yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang kafir” [Al Baqarah:264]
c. Jangan Niatkan Amal untuk Mendapatkan Dunia atau
Harta
Banyak orang yang bekerja atau mencari uang hanya karena
ingin kaya atau dunia. Ini sangat berbahaya karena mereka
hanya akan dapat kekayaan atau dunia tanpa mendapatkan
pahala akhirat sedikit pun:
”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka
balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan
mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali
neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka
usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka
kerjakan” [Huud:15-16]
Seharusnya niat tetap untuk mencari ridho Allah sehingga
mereka tetap mendapatkan pahala di akhirat. Meski pekerjaan
yang dilakukan sama, tapi karena niat berbeda hasilnya pun
berbeda.

Orang yang berusaha dengan niat mencari ridho Allah, niscaya
dia akan dapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Meski ada sebagian motivator yang baik, namun saya banyak
juga menyaksikan motivator yang memotivasi pembacanya
hanya untuk menjadi kaya/mendapat dunia. Ini berbahaya
karena bisa merusak niat dan amal/usaha pembacanya.
Saran saya pelajari teknik mencari uang dengan niat mencari
ridho Allah. Niatkan harta yang anda dapat selain untuk
menafkahi keluarga anda sesuai ajaran Islam juga untuk di
jalan Allah. Sebab siapa yang berusaha hanya ingin
kekayaan/dunia tidak mendapat akhirat sedikit pun:
”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat
akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang
siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami
berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan
tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” [Asy
Syuura:20]
”...Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia, dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala
akhirat. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur” [Ali ’Imran:145]

Oleh karena itu hendaknya sebelum mengerjakan sesuatu kita
niatkan pekerjaan kita ikhlas untuk Allah SWT:
”Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan
dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas
(mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu
adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah
akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala
yang besar” [An Nisaa’:146]
Meski apa yang diperbuat sama, namun Allah hanya akan
menerima perbuatan orang yang bertakwa:
”Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil
dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya
mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang
dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain
(Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!." Berkata
Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari
orang-orang yang bertakwa." [Al Maa-idah:27]
Bab Niat ini sebetulnya amat penting. Karena niat itulah yang
menentukan apakah amal baik kita diterima oleh Allah atau
tidak. Oleh karena itu mari kita niatkan semua amal baik kita,
termasuk dalam membaca buku ini untuk Allah SWT.
Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr.
Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press



" Seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. " ( Qaaf ayat 17 - 18 )

Minggu, 14 Juni 2009

Tauhid,Keutamaan,dan Macam-macamnya

(diambil dari buku Tauhid Keutamaan,dan macam-macamnya)
http://www.islamhouse.com/
Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah SWT adalah Esa,
tidak ada sekutu bagi-Nya dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah),
Asma` dan Sifat-Nya.
Urgensi Tauhid: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah
SWT semata, Rabb (Tuhan) segala sesuatu dan rajanya. Sesungguhnya
hanya Dia yang Maha Pencipta, Maha Pengatur alam semesta. Hanya Dia
lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya. Dan setiap yang disembah
selain-Nya adalah batil. Sesungguhnya Dia SWT bersifat dengan segala sifat
kesempurnaan, Maha Suci dari segala aib dan kekurangan. Dia SWT
mempunyai nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang tinggi.


Pembagian Tauhid
Tauhid yang didakwahkan oleh para rasul dan diturunkan kitab-kitab
karenanya ada dua:
1. Pertama: Tauhid dalam pengenalan dan penetapan, dan dinamakan
dengan Tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma dan Sifat. Yaitu menetapkan
hakekat zat Rabb SWT dan mentauhidkan (mengesakan) Allah SWT dengan
asma (nama), sifat, dan perbuatan-Nya.
Pengertiannya: seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah
SWT sematalah Rabb yang Menciptakan, Memiliki, Membolak-balikan,
Mengatur alam ini, yang sempurna pada zat, Asma dan Sifat-sifat, serta
perbuatan-Nya, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, Yang Meliputi
segala sesuatu, di Tangan-Nya kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Dia SWT mempunyai asma' (nama-nama) yang indah dan sifat yang
tinggi:
لَtidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Sura:11)
2. Tauhid dalam tujuan dan permohonan, dinamakan tauhid uluhiyah dan
ibadah, yaitu mengesakan Allah SWT dengan semua jenis ibadah, seperti:
doa, shalat, takut, mengharap, dll.
٢
Pengertiannya: Seorang hamba meyakini dan mengakui bahwa Allah
SWT saja yang memiliki hak uluhiyah terhadap semua makhlukNya. Hanya
Dia SWT yang berhak untuk disembah, bukan yang lain. Karena itu tidak
diperbolehkan untuk memberikan salah satu dari jenis ibadah seperti: berdoa,
shalat, meminta tolong, tawakkal, takut, mengharap, menyembelih, bernazar
dan semisalnya melainkan hanya untuk Allah SWT semata. Siapa yang
memalingkan sebagian dari ibadah ini kepada selain Allah SWT maka dia
adalah seorang musyrik lagi kafir. Firman Allah SWT:


Siapa menyembah ilah yang lain selain Allah SWT, padahal tidak ada suatu
dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi
Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung.
(QS. Al-Mukminun:117)
Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah; kebanyakan manusia
mengingkari tauhid ini. Oleh sebab itulah Allah SWT mengutus para rasul
kepada umat manusia, dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, agar
mereka beribadah kepada Allah SWT saja dan meninggalkan ibadah kepada
selain-Nya.
1. Firman Allah SWT :

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya:"Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku,
maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. Al-Anbiya` :25)
2. Firman Allah SWT:


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan):"Sembahlah Allah SWT (saja), dan jauhilah Thaghut itu",….
(QS. An-Nahl :36)
Hakekat dan Inti Tauhid:
٣
Hakekat dan inti tauhid adalah agar manusia memandang bahwa
semua perkara berasal dari Allah SWT, dan pandangan ini membuatnya
tidak menoleh kepada selainNya SWT tanpa sebab atau perantara.
Seseorang melihat yang baik dan buruk, yang berguna dan yang berbahaya
dan semisalnya, semuanya berasal dariNya SWT. Seseorang
menyembahNya dengan ibadah yang mengesakanNya dengan ibadah itu dan
tidak menyembah kepada yang lain.
Buah Hakekat Iman:
Seseorang hanya boleh tawakkal kepada Allah SWT semata, tidak
memohon kepada makhluk serta tidak memperdulikan celaan mereka. Ia
ridha kepada Allah SWT, mencintaiNya dan tunduk kepada hukumNya.
Tauhid Rububiyah diakui manusia dengan naluri fitrahnya dan
pemikirannya terhadap alam semesta. Tetapi sekedar mengakui saja tidaklah
cukup untuk beriman kepada Allah SWT dan selamat dari siksa. Sungguh
iblis telah mengakuinya, juga orang-orang musyrik, namun tidak ada gunanya
bagi mereka. Karena mereka tidak mengakui tauhid ibadah kepada Allah
SWT semata.
Siapa yang mengakui Tauhid Rububiyah saja, niscaya dia bukanlah
seorang yang bertauhid dan bukan pula seorang muslim, serta tidak
dihormati/diharamkan darah dan hartanya sampai dia mengakui dan
menjalankan Tauhid Uluhiyah. Sehingga dia bersaksi bahwa tidak Ilah
(sesembahan) yang berhak disembah selain Allah SWT semata, tidak ada
sekutu bagiNya. Dan dia mengakui hanya Allah SWT saja yang berhak
disembah, bukan yang lainnya. dan konsekuensinya adalah hanya beribadah
kepada Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagiNya.
. Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah memiliki ketergantungan satu sama
lain:
1. Tauhid Rububiyah mengharuskan kepada Tauhid Uluhiyah. Siapa
yang mengakui bahwa Allah SWT Maha Esa, Dia lah Rabb, Pencipta,
Yang Memiliki, dan yang memberi rizki niscaya mengharuskan dia
mengakui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah SWT.
Maka dia tidak boleh berdoa melainkan hanya kepada Allah SWT,
tidak meminta tolong kecuali kepadaNya, tidak bertawakkal kecuali
kepadaNya. Dia tidak memalingkan sesuatu dari jenis ibadah kecuali
٤
hanya kepada Allah SWT semata, bukan kepada yang lainnya.
Tauhid uluhiyah mengharuskan bagi tauhid rububiyah agar setiap
orang hanya menyembah Allah SWT saja, tidak menyekutukan
sesuatu dengannya. Dia harus meyakini bahwa Allah SWT adalah
Rabb-Nya, Penciptanya, dan pemiliknya
2. Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah terkadang disebutkan secara
bersama-sama, akan tetapi keduanya mempunyai pengertian
berbeda. Makna Rabb adalah yang memiliki dan yang mengatur dan
sedangkan makna ilah adalah yang disembah dengan sebenarnya,
yang berhak untuk disembah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Seperti
firman Allah SWT:

Katakanlah:"Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia.
Sembahan manusia" (QS. An-Naas: 1-3)
Dan terkadang keduannya disebutkan secara terpisah, maka keduanya
mempunyai pengertian yang sama, seperti firman Allah SWT :

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, …". (QS. An-
An'aam:164)
Keutamaan Tauhid
1. Firman Allah SWT :


Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.
Al-An'aam: 82)
2. Dari 'Ubadah bin ash-Shamit r.a, bahwasanya Nabi SAW bersabda, "Siapa
yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah
SWT. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad SAW adalah
hamba dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Isa adalah hamba dan Rasul-Nya,
serta kalimah-Nya yang diberikan-Nya kepada Maryam dan Ruh dari-Nya.
Dan (siapa yang bersaksi dan meyakini bahwa) surga adalah benar, neraka
٥
adalah benar, niscaya Allah SWT memasukkannya ke dalam surga
berdasarkan amal yang telah ada". Muttafaqun 'alaih.1
3. Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW
bersabda, 'Allah SWT berfirman, 'Wahai keturunan Adam, selama kamu
berdoa dan mengharap kepada-Ku, niscaya Kuampuni semua dosa kalian
dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun dosanya). Wahai keturunan Adam,
jika dosamu telah sama ke atas langit, kemudian engkau meminta ampun
kepada-Ku, niscaya Kuampuni dan Aku tidak perduli (sebanyak apapun
dosamu). Wahai keturunan Adam, jika engkau datang kepadanya dengan
kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang menemui-Ku dalam
keadaan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Ku, niscaya Aku datang
kepadamu dengan ampunan sepenuhnya (bumi)." HR. at-Tirmidzi.2
Balasan Ahli Tauhid
Firman Allah SWT:

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat
baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungaisungai
di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surgasurga
itu, mereka mengatakan:"Inilah yang pernah diberikan kepada kami
dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di
dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-
Baqarah: 25)
Dari Jabir r.a, ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW seraya
berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang bisa dipastikan?' Beliau
menjawab, 'Siapa yang meninggal dunia dan keadaan tidak menyekutukan
sesuatupun dengan Allah SWT niscaya dia masuk dan siapa yang meninggal
1 Muttafaqun 'alaih. HR. al-Bukhari no. (3435) dan ini lafaznya, dan Muslim no. (28)
2 Shahih. HR. at-Tirmidzi no. (3540), Shahih Sunan at-Tirmidzi no. (2805).
٦
dunia dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan Allah SWT, niscaya dia
masuk neraka." HR. Muslim.3
Keagungan Kalimah Tauhid
Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda, "Sesungguhnya Nabi Nuh 'alaihissalam tatkala menjelang
kematiannya, beliau berkata kepada anaknya, "Sesungguhnya aku
menyampaikan wasiat kepadamu: Aku perintahkan kepadamu dua perkara
dan melarangmu dari dua perkara. Saya perintahkan kepadamu dengan
kalimat laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah).
Sesungguhnya seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi diletakkan
dalam satu daun timbangan dan kalimah laa ilaaha illallah (Tiada Ilah (yang
berhak disembah) selain Allah) diletakkan pada daun timbangan yang lain,
niscaya kalimat laa ilaaha illallah lebih berat. Dan jikalau tujuh lapis langit dan
tujuh lapis bumi merupakan sebuah lingkaran yang samar, niscaya
dipecahkan oleh kalimah laa ilaaha illallah dan subhanallahi wabihamdih
(maha suci Allah dan dengan memujian-Nya), sesungguhnya ia merupakan
inti dari semua ibadah. Dengannya makhluk diberi rizqi. Dan aku melarangmu
dari perbuatan syirik dan takabur…" HR. Ahmad dan al-Bukhari dalam al-
Adab al-Mufrad.4
Kesempurnaan Tauhid
Tauhid tidak sempurna kecuali dengan beribadah hanya kepada Allah
SWT semata, tiada sekutu bagi-Nya dan menjauhi thaghut, seperti firman
Allah SWT:


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu... (QS. An-
Nahl:36)
Thaghut adalah setiap perkara yang hamba melewati batas
dengannya berupa sesembahan seperti berhala, atau yang diikuti seperti
peramal dan para ulama jahat, atau yang ditaati seperti para pemimpin atau
pemuka masyarakat yang ingkar kepada Allah SWT.
3 HR. Muslim no. (93)
4 Shahih. HR. Ahmad no. (6583) dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. (558), Shahih al-Adab
al-Mufrad no. (426). Lihat as-Silsilah al-Shahihah karya Syaikh al-Albani no.( 134).
٧
- Thaghut itu sangat banyak dan intinya ada lima:
1- Iblis –semoga Allah SWT melindungi kita darinya-,
2- Siapa yang disembah sedangkan dia ridha,
3- Siapa yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
4- Siapa yang mengaku mengetahui yang gaib,
5- Siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah SWT.


Kamis, 11 Juni 2009

apa itu tauhid

Tauhid (Arab :توحيد),

adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.
Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat merupakan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah.

Dalil yang menyebitkan tentang kewajiban bertauhid adalah sebagai berikut:
Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)
"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS At Taubah: 31)
"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)" (QS Az Zumar: 2-3)
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" (QS Al Bayinah: 5

Sedangkan perkataan ulama tentang tauhid adalah sebagai berikut:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa serta taat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya" (Majmu' Fatawa 15/25)
Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.
Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid'ah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayaan, hal 4)
Rububiyah
Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu"

tauhid dibagi dlam beberapa macam diantaranya:
Uluhiyah/Ibadah
Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangiNya. "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Imran : 18). Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya.

Asma wa Sifat
Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.

Tidak ada Tauhid Mulkiyah
Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40. [Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]